Model Pendidikan Holistik Berbasis Karakter

Tags

Model Pendidikan Holistik Berbasis Karakter

Pendidikan holistik berbasis karakter adalah sebuah model pendidikan yang memfokuskan pada pembentukan seluruh aspek dimensi manusia, sehingga dapat menjadi manusia yang berkarakter. Model pendidikan ini menerapkan teori-teori sosial, emosi, kognitif, fisik, moral, dan spiritual. 



Model Pendidikan Holistik Berbasis Karakter

Model ini diharapkan dapat memampukan siswa berkembang sebagai individu yang terintegrasi dengan baik secara spiritual, intelektual, sosial, fisik, dan emosi, yang berpikir kreatif secara mandiri, dan bertanggung jawab. Membentuk manusia secara utuh (holistik) yang berkarakter, yaitu mengembangkan aspek fisik, emosi, sosial, kreativitas, spiritual dan intelektual siswa secara optimal. Selain itu untuk membentuk manusia yang life long learners (pembelajar sejati). 


Dengan kata lain, proses pendidikan karakter ini akan melibatkan ragam aspek perkembangan siswa, baik kognitif, konatif, afektif, maupun psikomotorik sebagai suatu keutuhan (holistik) dalam konteks kehidupan kultural. Pengembangan karakter ini menyatu dalam proses pembelajaran yang mendidik, disadari oleh guru sebagi tujuan pendidikan, dikembangakan dalam suasana pembelajaran yang trasaksional dan bukan instruksional, dan dilandasi pemahaman secara mendalam terhadap perkembangan siswa.  


Suasana pembelajaran ini akan menumbuhkan nurturan effect pembelajaran yang di dalamnya termasuk pengembangan karakter, soft skills dan sejenisnya seiring dengan pengembangan pengetahuan dan keterampilan yang dikembangkan dalam pembelajaran itu. 


Inilah sesungguhnya esensi dari kompetensi dan kinerja guru profesional yang dalam pelaksanaannya harus didukung oleh kebijakan yang tepat tentang pembelajaran. Pembelajaran dibangun sebagai proses kultural, dan pendidik/guru adalah “perekayasa” kultur pembelajaran dan sekolah. kultur sekolah perlu dikembangkan sebagai ekologi perkembangan siswa dengan segala perangkat pendukungnya. 


Pendidikan holistik berbasis karakter memfokuskan pada pembentukan seluruh aspek dimensi manusia sehingga dapat menjadi manusia yang berkarakter. Kurikulum holistik berbasis karakter ini disusun berdasarkan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dan diterapkan dengan menggunakan pendekatan inquiry-based learning, collaborative and cooperative learning, dan integrated leaning yang semuanya dapat menciptakan suasana belajar yang efektif dan menyenangkan, serta dapat mengembangkan seluruh aspek dimensi manusia secara holistik. 


a. Inquiry-Based Learning 


Inquiry-based learning–pendekatan yang merangsang minat anak atau rasa keingintahuan anak– implementasinya pada kegiatan belajar mengajar adalah dengan memberikan materi yang dapat merangsang minat anak, baik dalam bentuk pertanyaan, keingintahuan, dan keinginan untuk mencoba atau membuat eksperimen. Pendekatan inquiry learning diharapkan dapat menjadikan siswa sebagai inquirer (manusia yang selalu bertanya dan mencari tahu) dengan cara merangsang anak untuk bertanya. 


b. Collaborative dan cooperative learning 


Collaborative learning adalah metode yang melibatkan siswa dalam diskusi dalam upaya untuk mencari jawaban atau sebuah solusi yang sedang dipelajari. Implementasi collaborative learning dapat dilakukan metode cooperative learning, yaitu siswa bekerja bersama-sama, berhadapan muka dalam kelompok kecil dan melakukan tugas yang sudah terstruktur. 


Terdapat beberapa keuntungan dengan mengaplikasikan cooperative learning, di antaranya adalah siswa belajar bagaimana mengelola kelompok (termasuk juga mengelola konflik), siswa dapat berpartisipasi aktif dengan mencelupkan anak pada kegiatan yang mengasyikkan, siswa dapat menjadi guru bagi kawannya, penghargaan diberikan pada setiap individu karena semua kontribusi yang diberikan oleh masing individu dihargai, siswa dapat melihat perspektif yang lebih lengkap dengan berdiskusi antar sesama kawan yang dapat pula mengembangkan kemampuan inter-personalnya.  


c. Itegrated learning 


Integrated learning atau pembelajaran terintegrasi/ terpadu merupakan suatu pembelajaran yang memadukan berbagai materi dalam satu sajian pembelajaran. Inti pembelajaran ini adalah agar siswa memahami keterkaitan antara satu materi dengan materi lain, antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lain. Dari integrated learning ini, muncullah istilah integrated curriculum (kurikulum terintegrasi/terpadu). Karakteristik kurikulum terintegrasi antara lain:

  1. Ada keterkaitan antar mata pelajaran dengan tema sebagai pusat keterkaitan. 
  2. Menekankan pada aktivitas kongkrit. 
  3. Memberikan peluang bagi siswa untuk bekerja dalam kelompok. 
  4. Selain memberikan pengalaman untuk memandang sesuatu dalam perspektif keseluruhan, juga memberikan motivasi kepada siswa untuk bertanya dan mengetahui lebih lanjut mengenai materi yang dipelajarinya. 
Dalam menyusun kirikulum terintegrasi, menurut Megawangi, terdapat beberapa hal penting yang perlu diperhatikan untuk mencapai tujuan pendidikan holistik, yaitu:
  1. Mencakup aktivitas yang dapat mengembangkan aspek fisik, emosi, sosial, bahasa, estetika dan akademik siswa, termasuk mengaplikasikan konsep kecerdasan majemuk. 
  2. Mencakup seluruh mata pelajaran secara terintegrasi yang relevan (kontekstual), berarti bagi siswa, serta yang dapat mencelupkan siswa dalam pembelajaran yang mengasikan. 
  3. Kegiatan yang dirancang berdasarkan pengetahuan tentang apa yang telah diketahui siswa sebelumnya, dan siswa mampu mengerjakannya. 
  4. Kurikulum harus dapat meningkatkan pemahaman akan konsep, prosesnya, dan kemampuan melakukannya, sehingga siswa tahu manfaat konsep yang dipelajarinya dan tertarik untuk terus mempelajarinya. 
Kurikulum ini dirancang agar siswa secara langsung berpartisipasi aktif, misalnya dengan melakukan eksperimen ilmiah, mengumpulkan dan menganalisis data, atau melakukan peran-peran sebagai ilmuan lainnya dalam berbagai disiplin ilmu. 

Model ini memfokuskan pada pembentukan karakter siswa sebagai upaya pembangunan karakter bangsa (national character building) yang merupakan aspek penting dalam menentukan kemajuan suatu bangsa. Karakter bangsa sangat tergantung pada kualitas karakter sumber daya manusianya (SDM). 


Karenanya karakter yang berkualitas perlu dibentuk dan dibina sejak usia dini. Menurut Freud kegagalan penanaman kepribadian yang baik di usia dini ini akan membentuk pribadi yang bermasalah di masa dewasanya kelak. Kesuksesan orang tua membimbing anaknya dalam mengatasi konflik kepribadian di usia dini sangat menentukan kesuksesan anak dalam kehidupan sosial di masa dewasanya kelak. 


Pembentukan karakter dapat diibaratkan sebagai pembentukan seseorang menjadi body builder (binaragawan) yang memerlukan “latihan otot-otot akhlak” secara terus-menerus agar menjadi kokoh dan kuat. Program yang menyeluruh ini bertujuan untuk menyeimbangkan antara hati, otak dan otot (Pendidikan Holistik). Diharapkan mereka akan menjadi anak-anak yang berfikir kreatif, bertanggung jawab dan memiliki pribadi yang mandiri (manusia holistik). 


Dalam upaya perwujudan pendidikan holistik sebagai upaya pembinaan karakter dan kepribadian hendaknya melakukan model-model pendidikan sebagai berikut: 

  1. Menerapkan pendekatan modeling atau exemplary atau uswah hasanah, yakni mensosialisasikan dan membiasakan lingkungan pendidikan untuk menghidupkan dan menegakkan nilai-nilai akhlak dan moral yang benar melalui model atau teladan. Setiap tenaga pendidik hendaknya mampu menjadi uswah hasanah yang hidup bagi setiap peserta didik.  
  2. Menjelaskan atau mengklarifikasikan kepada peserta didik secara terus menerus tentang berbagai nilai yang baik dan buruk dengan pendekatan yang bisa diterima oleh peserta didik. 
  3. Menerapkan pendidikan berdasarkan karakter (characterbased education). Hal ini bisa dilakukan dengan menerapkan characterbased approach ke dalam setiap mata pelajaran yang ada di samping matapelajaran-matapelajaran khusus untuk pendidikan karakter, seperti pelajaran agama, sejarah, pancasila, dan sebagainya. 
  4. Jika masih menggunakan model pengembangan pembelajaran Bloomian harus memperhatikan keseimbangan ketiga ranah dan memasukkan ranah lainnya seperti ranah emosional, spiritual, dan ranah kecerdasan lainnya secara terpadu, sehingga berbagai indikator proses dan pencapaian pembelajaran tidak dikemas dan diukur semata-mata dalam kacamata behavioristik yang harus selalu terpilah, jelas, terukur dan harus bisa diobservasi. Pendidikan holistik juga dapat diaplikasikan dalam proses pembelajaran dengan menerapkan integrated learning atau pembelajaran terintergrasi/ terpadu, yaitu suatu pembelajaran yang memadukan berbagai materi dalam satu sajian pembelajaran. Inti pembelajaran ini adalah agar siswa memahami keterkaitan antara satu materi dengan materi lainnya, antara saru mata pelajaran dengan mata pelajaran lain. Dari integrated learning inilah muncul istilah integrated curriculum (kurikulum terintegrasi/terpadu).  
Kurikulum dan pembelajaran terintegrasi juga mengintegrasikan sekolah dengan lingkungannya. Dari pengertian istilah di atas dapat disimpulkan bahwa kurikulum terpadu sebagai sebuah konsep dapat dikatakan sebagai sebuah sistem dan pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa disiplin ilmu atau mata pelajaran/bidang studi untuk memberikan pengalaman yang bermakna dan luas kepada peserta didik. 

Dikatakan bermakna karena dalam konsep kurikulum terpadu, peserta didik akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari itu secara utuh dan realistis. Dikatakan luas karena pengetahuan yang mereka dapatkan tidak dibatasi oleh lingkup disiplin tertentu saja, tetapi melingkupi semua lintas disiplin yang dipandang berkaitan antar satu sama lain. Dalam kontek pelajaran disekolah, konsep kurikulum terpadu dapat merupakan pemaduan materi, tema, pokok bahasan dan sub pokok bahasan yang terpadap pada dua atau beberapa mata pelajaran/bidang studi yang terdapat di sekolah.  


Kurikulum terintegrasi dalam pendidikan holistik membuat siswa belajar sesuai dengan gambaran yang sesungguhnya, hal ini karena kurikulum terintegrasi mengajarkan keterkaitan segala sesuatu sehingga terbiasa memandang segala sesuatu dalam gambaran yang utuh. 


Kurikulum terintegrasi dapat memberikan peluang kepada siswa untuk menarik kesimpulan dari berbagai sumber infomasi berbeda mengenai suatu tema, serta dapat memecahkan masalah dengan memperhatikan faktor-faktor berbeda ditinjau dari berbagai aspek. Selain itu dengan kurikulum terintegrasi, proses belajar menjadi relevan dan kontekstual sehingga berarti bagi siswa dan membuat siswa dapat berpartsipasi aktif sehingga seluruh dimensi manusia terlibat aktif (fisik, sosial, emosi, akademik, dan spiritual).  


Dari gambaran model pendidikan holistik di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan holistik memiliki karakteristik sebagai berikut: 

  1. bahwa pendidikan holistik adalah merupakan suat upaya membangun siswa secara utuh dan seimbang dalam seluruh aspek dirinya sebagai manusia, baik aspek jasmani maupun rohani, yang mencakup aspek fisik, intelektual, emosional, spiritual, dan lainnya. Dalam istilah lain, merupakan pendidikan yang dapat membangun segenap potensi (kecerdasan) yang dimiliki siswa, meliputi; kecerdasan linguistik, kecerdasan logis atau matematis, kecerdasan spatial atau visual, kecerdasan raga atau kenestetik, kecerdasan musikal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan natural, dan kecerdasan eksistensialis;
  2. pendidikan yang mencakup pemberian segenap ilmu pengetahuan secara lengkap dan utuh, baik ilmu pengetahuan duniawi maupun ukhrawi, ilmu pengetahuan umum maupun ilmu pengetahuan keagamaan, ilmu pengetahuan umum maupun spesialis;
  3. pendidikan yang tidak teralienasi dengan lingkungan dan budayanya. Dalam konteks ini, ilmu pengetahuan dan proses pembelajaran yang dilakukan harus menyatu dan sejalan dengan budaya dan perkembangan lingkungannya;
  4. pendidikan yang melibatkan segenap pihak yang bertanggung  jawab, baik pendidikan di lingkungan rumah tangga, sekolah, dan masyarakat;
  5. pendidikan yang dikembangkan melalui pembelajaran yang tidak dibatasi pada model dan pendekatan pendidikan subjek akademik dan teknologis semata, tetapi juga memasukkan model dan pendekatan pendidikan humanistik dan rekonstruksi sosial.

Artikel Terkait

Terimakasih Sudah Meluangkan Waktu Berkunjung Di Blog Ini 😁


EmoticonEmoticon