Konsep dan Urgensi Penegakan Hukum yang Berkeadilan

Konsep dan Urgensi Penegakan Hukum yang Berkeadilan

Pernahkah Anda berpikir, seandainya di sebuah masyarakat atau negara tidak ada hukum? Jawaban Anda tentunya akan beragam. Mungkin ada yang menyatakan kehidupan masyarakat menjadi kacau, tidak aman, banyak tindakan kriminal, dan kondisi lain yang menunjukkan tidak tertib dan tidak teratur. Namun, mungkin juga ada di antara Anda yang menyatakan, tidak adanya hukum di masyarakat atau negara aman-aman saja, tidak ada masalah.

Bagaimana pendapat Anda? Setujukah Anda dengan pendapat pertama atau yang kedua?

Thomas Hobbes (1588–1679 M) dalam bukunya Leviathan pernah mengatakan “Homo homini lupus”, artinya manusia adalah serigala bagi manusia lainnya. Manusia memiliki keinginan dan nafsu yang berbeda-beda antara manusia yang satu dan yang lainnya. Nafsu yang dimiliki manusia ada yang baik, ada nafsu yang tidak baik. 

Inilah salah satu argumen mengapa aturan hukum diperlukan. Kondisi yang kedua tampaknya bukan hal yang tidak mungkin bila semua masyarakat tidak memerlukan aturan hukum. Namun, Cicero (106 – 43 SM) pernah menyatakan “Ubi societas ibi ius”, artinya di mana ada masyarakat, di sana ada hukum. Dengan kata lain, sampai saat ini hukum masih diperlukan bahkan kedudukannya semakin penting.

Upaya penegakan hukum di suatu negara, sangat erat kaitannya dengan tujuan negara. Anda disarankan untuk mengkaji teori tujuan negara dalam buku “Ilmu Negara Umum”. Menurut Kranenburg dan Tk.B. Sabaroedin (1975) kehidupan manusia tidak cukup hidup dengan aman, teratur dan tertib, manusia perlu sejahtera. Apabila tujuan negara hanya menjaga ketertiban maka tujuan negara itu terlalu sempit. Tujuan negara yang lebih luas adalah agar setiap manusia terjamin kesejahteraannya di samping keamanannya. 

Dengan kata lain, negara yang memiliki kewenangan mengatur masyarakat, perlu ikut menyejahterakan masyarakat. Teori Kranenburg tentang negara hukum ini dikenal luas dengan nama teori negara kesejahteraan.

Teori negara hukum dari Kranenburg ini banyak dianut oleh negara-negara modern. Bagaimana dengan Indonesia? Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah negara hukum. Artinya negara yang bukan didasarkan pada kekuasaan belaka melainkan negara yang berdasarkan atas hukum, artinya semua persoalan kemasyarakatan, kewarganegaraan, pemerintahan atau kenegaraan harus didasarkan atas hukum.

Teori tentang tujuan negara dari Kranenburg ini mendapat sambutan dari negara-negara pada umumnya termasuk Indonesia. Bagaimana tujuan Negara Republik Indonesia?

Tujuan Negara RI dapat kita temukan pada Pembukaan UUD 1945 yakni pada alinea ke-4 sebagai berikut: ... untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.... 

Dari bunyi alinea ke-4 Pembukaan UUD NRI 1945 ini dapat diidentifikasi bahwa tujuan Negara Republik Indonesia pun memiliki indikator yang sama sebagaimana yang dinyatakan Kranenburg, yakni:
  1. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia
  2. Memajukan kesejahteraan umum
  3. Mencerdaskan kehidupan bangsa; dan
  4. Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Bagaimana tujuan negara ini dilaksanakan atau ditegakkan di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)?

Perlindungan terhadap warga negara serta menjaga ketertiban masyarakat telah diatur dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI 1945). Anda dianjurkan untuk mengkaji Bab IX, Pasal 24, 24A, 24 B, 24 C, dan 25 tentang Kekuasaan Kehakiman. Untuk mengatur lebih lanjut tentang kekuasaan kehakiman, telah dikeluarkan Undang-Undang Nomor 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.

UUD NRI 1945 Pasal 24
  1. Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan.***)
  2. Kekuasaan kehakiman menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan kekuasaan yang merdeka yang dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi.***)
  3. Badan-badan lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman diatur dalam undang-undang.****)
Dalam pertimbangannya, UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman dinyatakan bahwa “kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi, untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan.

Bagaimana lembaga peradilan dalam menegakkan hukum dan keadilan?

Negara kita telah memiliki lembaga peradilan yang diatur dalam UUD NRI 1945 ialah Mahkamah Agung (MA), Komisi Yudisial (KY), dan Mahkamah Konstitusi (MK). Selain lembaga negara tersebut, dalam UUD NRI 1945 diatur pula ada badan-badan lain yang diatur dalam undang-undang. Tentang MA, KY, dan MK ini lebih lanjut diatur dalam UU No. 48/2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. Anda perhatikan apa yang dimaksud dengan ketiga lembaga peradilan tersebut.

UU No. 48/2009 Pasal 1 ayat (2), (3), (4)
(2) Mahkamah Agung adalah pelaku kekuasaan kehakiman sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
(3) Mahkamah Konstitusi adalah pelaku kekuasaan kehakiman sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
(4) Komisi Yudisial adalah lembaga negara sebagaimana dimaksud dalam UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Apabila mengacu pada bunyi pasal 24, maka lembaga negara MA, KY, MK memiliki kewenangan dalam kekuasaan kehakiman atau sebagai pelaku kekuasaan kehakiman. Dikemukakan dalam pasal 24 UUD NRI 1945 bahwa kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. Dengan demikian, tiga lembaga negara yang memiliki kekuasaan kehakiman memiliki tugas pokok untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan.

Bagaimana badan-badan peradilan lainnya dalam menegakkan hukum dan keadilan?

Dalam teori tujuan negara, pada umumnya, ada empat fungsi negara yang dianut oleh negara-negara di dunia:
(1) Melaksanakan penertiban dan keamanan;
(2) Mengusahakan kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya;
(3) Pertahanan; dan
(4) Menegakkan keadilan.

Pelaksanaan fungsi keempat, yakni menegakkan keadilan, fungsi negara dalam bidang peradilan dimaksudkan untuk mewujudkan adanya kepastian hukum. Fungsi ini dilaksanakan dengan berlandaskan pada hukum dan melalui badan-badan peradilan yang didirikan sebagai tempat mencari keadilan. 

Bagi Indonesia dalam rangka menegakkan keadilan telah ada sejumlah peraturan perundangan yang mengatur tentang lembaga pengadilan dan badan peradilan. Peraturan perundangan dalam bidang hukum pidana, kita memiliki Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

Dalam bidang peradilan, kita memiliki Peradilan Umum, Peradilan Militer, Peradilan Agama dan Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN). Selain itu, ada juga peradilan yang sifatnya ad hoc, misalnya peradilan tindak pidana korupsi (Tipikor).

Kopiku Pagi Ini

Kopiku pagi ini terasa sama dengan hari kemarin dan kemarennya.

Kopiku pagi ini terasa begitu nikmatnya walaupun kemarin dan kemarinnya saya juga merasakan kenikmatannya.

Kopiku pagi ini, mempunyai makna dalam segala aktivitasku ke depan.

kopiku, dimana kini kau berada?

Sungguh Hari ku kan kelam jika engkau tak ada di pagiku saat ini


Usaha Keras yang Melelahkan Akan Menghasilkan Kepuasan

"Usaha keras yang melelahkan dan menghasilkan akan menghasilkan kepuasan tersendiri."

Berbicara tentang sebuah pekerjaan ataupun kegiatan apapun itu baik didalam ruangan ataupun dilapangan pastinya akan membuat energi kita terkuras.

Saat energi kita terkuras tentu akan membuat fikiran kita juga ikut terkuras.
Dan itu akan membuat semangat kita drop atau turun.

Setelah semangat turun, apapun yang akan kita lakukan pasti akan terasa berat... Seolah apapun yang kita lakukan akan terasa tiasa artinya.

Namun teman-teman harus ingat, apapun usaha yang kita lakukan semuanya akan ada hasil yang menanti.

Oleh karena itu, bermodal dengan niat yang tulus kita harus tetap tanamkan dalam hati bahwa apapun yang kita kerjakan dengan hasil apapun, maka itu akan membuat kepuasan tersendiri.

Baik itu dari segi dunia mapun akhirat.

Semoga teman-teman yang hari ini sedang mengalami depresi, stres, drop semangat diberikan kekuatan dalam menjalani aktivitasnya sehari-hari.

Aminn...

Sukses to a people.

Cara Mengganti Nomor HP Akun Indodax yang Sudah Mati (Terblokir)

Halo kawan, jumpa lagi bersama saya.. Kali ini saya akan membagikan sebuah pengalaman yang membuat saya sedikit pusing beberapa waktu lalu.. permasalahan yang saya alami yakni akun indodax saya tidak dapat melakukan transaksi. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa untuk melakukan transaksi di indodax wajib melakukan verifikasi terlebih dahulu melalui SMS ataupun Google Authenticition.

Sedangkan nomer HP yang saya daftarkan sudah mati (terblokir) dan nomer alternatifnya juga mati pula. Ditambah lagi, Indodax melakukan peningkatan penggamanan untuk merubah pasword. Hal tersebut juga membutuhkan konfirmasi melalui nomer HP, dan nomer HP saya sudah mati, Waduh, galau bukan :(

Lalu bagaimana caranya mengganti nomer HP akun indodax yang sudah mati atau terblokir? atau bagaimana prosedurnya jika nomer HP lama dan nomer HP alternatif sudah tidak dapat dihubungi?

Cara Mengganti Nomer HP Akun Indodax yang Sudah Mati (Terblokir)


Ya.. pertanyaan itu yang saya cari di internet, saya cari-cari lalu saya temukan di blog help indodax. Lalu saya mencoba mempraktekkan. Namun agak sedikit berbeda,. Nah, saya langsung login di akun indodax saya, lalu saya menjumpai menu chat dibawah pojok kanan yang tertuju kepada admin indodax. Dengan sedikit perasaan yang tidak enak saya klik untuk menghubungi. 

Muncul kotak yang memerintahkan saya untuk mengisi data seperti nama, alamat e-mail, nomer hp alternatif dan keluhan lalu tekan enter atau ok. 

Tak lama, terlihat kotak tersebuh terlihat menghubungi admin. Lalu, muncul admin menyapa saya dan menanyakan keluhan yang sedang saya alami.

Dan sayapun ceritakan keluhan saya yakni ingin mengganti nomer HP indodax sebab nomer yang lama saya sudah mati. 

Admin lalu memberikan prosedurnya yakni mengisi data seperti berikut ini:
1. Scan KTP/Passport/SIM
2. Nomer ID KTP/Passport/SIM
3. Nama Lengkap
4. Alamat Rumah
5. Username
6. E-mail
7. Nomer HP lama
8. Nomer Hp baru

Setelah Data tersebut di isi, Admin menanyakan kesiapan saya karna akan dihubungi melalui telfon. Saya katakan "sekarang" lalu admin mengatakan bahwa akan menghubungi sesuai nomer antrian.

Lalu, Tak berapa lama, saya dibubungi oleh seseorang yang mengatakan bahwa dia dari indodax akan melakukan verifikasi melalui video call via WA, dan saya dipersilahkan untuk menyiapkan KTP saya. Setelah itu, saya persiapkan KTP dan ada video call dari nomer yang tadi (indodax) saya angkat namun tak ada gambarnya hanya saya saja yang kelihatan. (mungkin Adminnya malu hehhe)

Lalu saya ditanya data seperti yang saya kirim lewat chat admin sebelumnya, nama lengkap, alamat, username, email, nomer hp lama, dan nomer hp baru.
Setelah itu, admin memberi arahan untuk memegang KTP di bawah dagu seperti saya verifikati akun indodax.
.
Nah, setelah usai.. Admin mengatakan bahwa akan segera diproses. Telfon itu terjadi pukul 18.27 selama 3,27 menit. Tidak lama bukan..

Lalu sekitar pukul 19.39 saya mendapatkan email yang berisikan perubahan data nomer telfon yang saya ajukan sukses dan saya sudah bisa mengganti password baru seperti yang diminta indodax.

Demikianlah pengalaman saya mengganti nomer hp indodax yang sudah mati atau terblokir. Bila mana ada kata-kata yang kurang paham saya mohon maaf dan saya persilahkan untuk meninggalkan komentar dibawah ini.

Salam Profiiittttttt ..........

Gagal CPNS! Bukanlah Akhir Perjalanan Karier Anda

Haloo Sahabat-sahabatku yang sangat luar biasa..

PNS merupakan hal yang sangat di idam-idamkan bagi semua masyarakat Indonesia ya.. Terbukti dengan antusias masyarakat Indonesia yang mengikuti CPNS tahun 2018 ini yang mencapai 4 juta lebih masyarakat Indonesia yang ikut serta menjadi peserta CPNS tahun 2018.

Namun, dari banyaknya pelamar ini maka persaingan untuk mendapatkan posisi yang di tetapkan membuat pelamar banyak yang berguguran, baik itu pada saat seleksi berkas ataupun pada saat ujian CAT.

Ya.. ini merupakan sebuah seleksi yang diberikan kepada pemerintah kepada masyarakat bahwasannya ujian CPNS merupakan bagian penting untuk membentuk SDM yang mumpuni dalam mengisi posisi yang dibutuhkan.

Mengingat Bangsa Indonesia yang kini menghadapi dunia global yang sangat tinggi dalam persaingannya. Untuk itu, pemerintah juga menerapkan batas standar yang wajib dipenuhi oleh CPNS itu sendiri.

Sahabatku yang cerdas..

Bila kita melihat dari hasil kita saat kita mengeklik selesai saat tes maka itu akan menunjukkan kemampuan kita pada saat itu. Saat Anda mendapati nilai yang sesuai dengan apa yang di syaratkan oleh pemerintah maka hati akan terasa bangga dan sangat senang sekali.

Lalu, bagaimana jika nilai yang keluar sangat jauh dari standar itu?

Gagal CPNS! Bukanlah Akhir Perjalanan Karier Anda

Yaa.. di sini Anda bisa mengevaluasi cara kerja Anda. Bukan Anda gagal, namun disini Anda diberikan ruang atau waktu untuk dapat memperbaiki manajemen Anda dalam menentukan pilihan yang tepat.

Sebagaimana kita ketahui bahwa menjadi aparatur negara harus mempunyai sebuah inovasi yang banyak dalam menciptakan terobosan baru dalam dunia.

Oleh karena itu, janganlah berkecil hati jika Anda gagal dalam CPNS 2018.

Tetep semangat, lanjutkan mimpimu, karena hari esok akan ada sinar matahari yang terbit dan memberikan semangat baru bagi Anda untuk memperjuangkan mimpi Anda.

Gagal CPNS bukanlah akhir perjalanan mimpi Anda!!!

Salam Sukses...

Deskripsi Esensi dan Urgensi Demokrasi Pancasila Part 3

Deskripsi Esensi dan Urgensi Demokrasi Pancasila Part 3

c. Penerapan Demokrasi dalam Pemilihan Pemimpin Politik dan Pejabat Negara

Seorang wanita tua menghadap Sultan Sulaiman al-Qanuni untuk mengadu bahwa tentara sultan mencuri ternak dombanya ketika dia sedang tidur. Setelah mendengar pengaduan itu, Sultan Sulaiman berkata kepada Wanita itu, “Seharusnya kamu menjaga ternakmu dan jangan tidur”. Mendengar perkataan tersebut wanita tua itu mejawab, “Saya mengira baginda menjaga dan melindungi kami sehingga aku tidur dengan aman” (Hikmah Dalam Humor, Kisah, dan Pepatah, 1998).
Deskripsi Esensi dan Urgensi Demokrasi Pancasila Part 3

Kisah di atas menunjukkan contoh pemimpin yang lemah, yakni pemimpin yang tidak mampu melindungi rakyatnya. Seorang pemimpin memang harus yang memiliki kemampuan memadai, sehingga ia mampu melindungi dan mengayomi rakyatnya dengan baik. Oleh karena itu, seorang pemimpin harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Berdasarkan sistem demokrasi yang kita anut seorang pemimpin itu harus beriman dan bertawa, bermoral, berilmu, terampil, dan demokratis.
Simaklah dengan seksama, sebuah kisah tentang bagaimana karakter seorang pemimpin dibawah ini:

a.       Beriman dan bertaqwa

Pada suatu ketika Khalifah sedang melakukan perjalanan mengamati kehidupan rakyatnya ke pelosok-pelosok kampung. Di perjalanan beliau bertemu dengan seorang anak penggembala kambing yang sedang menggembalakan kambing-kambingnya di padang rumput yang hijau. Kalifah mendekati anak itu seraya berkata, “Nak, bolehkah Bapak membeli seekor kambing gembalaanmu”, ujar Khalifah. Anak itu lalu menjawab, “tidak bisa Pak, kambing ini bukan milik saya, kambing-kambing ini milik majikan saya”, ujar anak itu. Sang Khalifah tambah penasaran, lalu beliau menegaskan akan hasratnya untuk membeli seekor kambing gembalaan anak tersebut.
“Nak, kambing gembalaanmu amat banyak, maka jika hanya seekor saja kamu jual, majikanmu tidak mungkin mengetahuinya. Kalaupun nantinya majikanmu tahu juga ada seekor kambing miliknya yang hilang, maka katakan saja diterkam serigala”, ujar Khalifah meyakinkan anak itu. Tanpa diduga sedikit pun oleh Khalifah, anak itu lantas menjawab, “Pak, sekalipun majikan saya tidak akan mengetahui seekor kambing miliknya telah saya jual, apakah Allah juga tidak akan mengetahui perbuatan saya itu?”, jawab anak itu sambil menatap wajah Khalifah dengan sorot mata yang amat tajam.
 Tidak kuasa menahan rasa haru, Sang Khalifah membalikkan badannya membelakangi anak tersebut sambil mengusap wajahnya yang dibasahi air mata keharuan. Khalifah amat kagum, seorang anak penggembala, yang oleh kebanyakan orang dianggap hina, ternyata menunjukkan keimanan yang amat kukuh. Lalu Sang Khalifah membalikkan badannya dan merangkul anak itu yang masih terkaget-kaget menyaksikan kejadian tersebut. Baru setelah Khalifah itu memperkenalkan dirinya, anak gembala itu pun menyadarinya bahwa yang mendekap dirinya itu adalah Sang Penguasa Negerinya, yakni Khalifah Umar Bin Khatab.

Berdasar cerita di atas, bagaimana sebaiknya sikap seseorang yang memperoleh kepercayaan sebagai pemimpin? Sikap terbaik jika memperoleh kepercayaan adalah mensyukurinya, sebab selain tidak banyak orang yang memperoleh kepercayaan seperti itu, juga pada hakikatnya merupakan nikmat dari Tuhan.
Salah satu cara untuk bersyukur adalah selalu ingat akan tugas kepemimpinan yang diembannya, yakni memimpin umat mencapai tujuan dengan ridha Tuhan. Apabila ia beriman dan bertakwa maka tugas-tugas kepemimpinannya itu akan disyukuri sebagai amanah dan sebagai kewajiban mulia agar mampu dilaksanakan dengan baik.

b.      Bermoral

Di bawah Sultan Agung, Mataram berhasil mengangkat dirinya sebagai kerajaan yang mampu mengobrak-abrik kesombongan Kompeni. Hampir seluruh tanah Jawa dapat disatukan. Kekuasaannya menjangkau ke Sumatra, yakni Palembang dan Jambi, serta ke Kalimantan, yakni Banjarmasin. Namun, setelah Sultan Agung wafat, wibawa Mataram mulai melorot. Tahun 1645 Sultan Agung meninggal dunia dan dimakamkan di Imogiri, dekat Yogyakarta. Tahun itu juga, putranya, Pangeran Aria Prabu Adi Mataram, dinobatkan menjadi raja dengan gelar Sultan Amangkurat I.
Berbeda dari sifat ayahnya, Amangkurat I lebih suka hidup berfoya-foya. Kesempatan sebagai penguasa dimanfaatkan untuk meneguk kemewahan dan kesenangan. Kompeni Belanda yang dahulu dibenci ayahandanya, malah dirangkulnya. Kompeni Belanda dengan kekuatan dan kekayaannya telah memberikan berbagai keindahan dunia berupa minuman keras dan benda-benda perhiasan yang memabukkan.
Untuk mengamankan kekuasaannya, Amangkurat I menjalin perjanjian dengan Kompeni. Supaya aman ia harus membungkam orang atau para tokoh yang dianggapnya berbahaya. Adik kandungnya, Pangeran Alit, dibinasakannya. Iparnya, bupati Madura, Cakraningrat I, juga mengalami nasib yang sama. Yang lebih mengerikan adalah tindakannya sesudah selirnya yang tercantik, Ratu Malang, meninggal secara mendadak. Ia menuduh, kematian itu akibat diracun oleh salah seorang atau beberapa selir saingannya. Maka sebanyak 43 orang selir yang berusia masih muda-muda dibinasakan hanya dalam waktu sehari saja. Dan, atas tuduhan yang tidak berdasar, segenap keluarga Pangeran Pekik, nenek Adipati Anom, anaknya, juga dibinasakan sampai tidak tersisa.
Tentu saja keresahan mulai merebak. Ketidakpuasan berkembang subur. Suara-suara ketidakdilan makin bermunculan. Menurut para penasihat raja, suasana seperti itu akan berbahaya jika dibiarkan merebak. Maka harus dicari penyelesaiannya yang cepat dan tuntas. Dibisikkan kepada Amangkurat I, para ulamalah yang bertanggung jawab atas semua ketidaktenangan itu. Merekalah yang paling gigih meneriakkan tuntutan kebenaran dan kejujuran. Jadi, para ulama yang dinilai sangat keras hati perlu dibinasakan.
Terjadilah kemudian malapetaka itu. Sebanyak 6.000 orang ulama tidak berdosa dikumpulkan di lapangan, dan dibantai hanya dalam tempo satu jam. Dengan demikian, Amangkurat I merasa bebas merdeka untuk berjabat tangan dan berpelukan mesra dengan Kompeni Belanda. Tidak ada lagi yang berani menegur atau menasihatinya.
Namun, tidak semua bangsawan menyetujui tindakan sewenang-wenang itu.
Masih banyak kaum ningrat yang menyatu dengan rakyat. Tekad pun menyatu. Tekad rakyat, tekad para menak, tekad para penegak keadilan, semua menyatu, menjadi semangat perlawanan terhadap kezaliman dan kesewenang-wenangan.
Bangkitlah seorang pemuda dari lingkungan istana Cakraningrat I. Ia bernama Trunojoyo, cucu Prabu Cakraningrat I dari Madura. Dengan semangat memperjuangkan kebenaran dan melawan kelaliman, Trunojoyo mengobarkan pemberontakan, dibantu oleh Karaeng Galesong dari Makasar. Trunojoyo beserta pasukannya berjaya memasuki Mataram. Amangkurat I melarikan diri menyusuri pantai Jawa, akhirnya meninggal dunia di Tegal Arum dalam keadaan nista dan sengsara. (Dikutip dari: 30 Kisah Teladan, 1991).

Dari kisah tersebut di atas apakah Anda berpendapat bahwa Amangkurat I merupakan seorang pemimpin yang baik?
Apakah memiliki kualitas moral yang baik?
Bagaimana jika seorang pemimpin, kualitas moralnya buruk? Apa yang akan terjadi?

Mari kita perhatikan pengertian moral yang kita maksudkan. Moral adalah ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya. Istilah lain untuk moral adalah akhlak, budi pekerti, susila. Bermoral berarti mempunyai pertimbangan baik buruk. Pemimpin yang bermoral berarti pemimpin yang berakhlak baik.


Bagi kita yang terpenting adalah mampu mengambil hikmah dari sejumlah kejadian yang menimpa para pemimpin yang lalim dan tidak bermoral itu. Sejarah mencatat semua pemimpin yang zalim dan tidak bermoral tidak mendatangkan kesejahteraan bagi rakyatnya. Sedang ia sendiri di akhir hayatnya memperoleh kehinaan dan derita. Amangkurat I, misalnya meninggal di tempat pelarian dengan amat mengenaskan. Raja Louis XVI raja yang amat “tiran” dari Prancis, mati di-guillotine (pisau pemotong hewan) oleh massa, Adolf Hitler seorang diktator dari Jerman meninggal dengan cara meminum racun. Oleh karena itu, tidak ada guna dan manfaatnya sama sekali dari seorang pemimpin yang demikian itu. Jadilah pemimpin yang bermoral, berakhlak, dan berbudi pekerti luhur yang dapat memberi kemaslahatan bagi rakyat. Syarat lain bagi seorang pemimpin adalah berilmu, terampil, dan demokratis