Kami Siap Menghadapi TES CAT CPNS tahun 2020!!!

Jadwal TES CAT dalam Seleksi CPNS 2020 sebentar lagi akan di laksanakan., Bukan hitungan bulan, melainkan hitungan hari Anda akan menghadapi masa dimana memperjuangkan cita-cita Anda untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil tahun 2020.

Kami Siap Menghadapi TES CAT CPNS tahun 2020!!!


Anda mempunyai potensi yang berbeda-beda dan pastinya memiliki sisi lebih masing-masing, namun Anda juga tidak boleh bersombong ria dengan apa yang Anda miliki. CPNS bukan 100% bagai Anda yang memiliki tingkat intelegenci 100 ketas, tetapi CPNS 2020 milik Anda yang berani untuk menghadapi pertarungan pada saat TES CAT. 

Katakan dalam hati Anda, Anda siap untuk mengawali hari yang baru, dengan semangat yang menggebu-gebu, demi nusa dan bangsa.

Semoga kita semua mendapatkan hasil yang makasimal... 

Salam Sukses Bersama ......

Pengertian Penyelesaian Hambatan Pemilihan Karir Dalam Bimbingan Dan Konseling

Penyelesaian Hambatan Pemilihan Karir

Pengertian Penyelesaian Hambatan Pemilihan Karir


Dalam bimbingan dan konseling, pemecahan masalah adalah bagian penutup dari proses yang lebih besar yang juga mencakup masalah menemukan dan masalah membentuk.


Pengertian Penyelesaian Hambatan Pemilihan Karir Dalam Bimbingan Dan Konseling

Penyelesaian adalah suatu tindakan yang diambil untuk pemecahan masalah yang dialami. Menurut Wikipedia (2014) menjelaskan bahwa:

Penyelesaian atau pemecahan masalah adalah bagian dari proses berpikir. Sering dianggap merupakan proses paling kompleks di antara semua fungsi kecerdasan, pemecahan masalah telah didefinisikan sebagai proses kognitif tingkat tinggi yang memerlukan modulasi dan kontrol lebih dari keterampilan-keteranpilan rutin atau dasar. Proses ini terjadi jika suatu organisme atau sistem kecerdasan buatan tidak mengetahui bagaimana untuk bergerak dari suatu kondisi awal menuju kondisi yang dituju.

Sedangkan menurut Krisanto dan Adi (2014) menyatakan bahwa “pemecahan masalah sebagai suatu usaha mencari jalan keluar dari suatu kesulitan guna mencapai suatu tujuan yang tidak segera dapat dicapai.”

Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa penyelesaian masalah yaitu suatu proses berpikir untuk mencari jalan keluar dari suatu kesulitan yang dianggap paling kompleks di antara semua fungsi kecerdasan guna mencapai suatu tujuan.

Pengertian hambatan merupakan halangan yang dialami seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Menurut Habibullah (2015) menjelaskan pengertian hambatan yaitu sebagai berikut “hambatan adalah usaha yang ada dan berasal dari dalam diri sendiri yang memiliki sifat atau memiliki tujuan untuk melemahkan dan menghalangi secara tidak konsepsional”.

Sedangkan menurut Tim penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002: 385) memaparkan pengertian dari hambatan yaitu sebagai berikut:” Hambatan adalah halangan atau rintangan”. 


Hambatan memiliki arti yang sangat penting dalam setiap melaksanakan suatu tugas atau pekerjaan. Suatu tugas atau pekerjaan tidak akan terlaksana apabila ada suatu hambatan yang mengganggu pekerjaan tersebut. 

Hambatan merupakan keadaan yang dapat menyebabkan pelaksanaan terganggu dan tidak terlaksana dengan baik. Setiap manusia selalu mempunyai hambatan dalam kehidupan sehari-hari, baik dari diri manusia itu sendiri ataupun dari luar manusia. 

Hambatan cenderung bersifat negatif, yaitu memperlambat laju suatu hal yang dikerjakan oleh seseorang. Dalam melakukan kegiatan seringkali ada beberapa hal yang menjadi penghambat tercapainya tujuan, baik itu hambatan dalam pelaksanaan program maupun dalam hal pengembangannya.

Berdasarkan pemaparan tersebut, maka peneliti menyimpulkan bahwa hambatan adalah suatu rintangan atau halangan yang dapat menghambat atau menghalangi usaha yang akan dilakukan atau dilaksanakan oleh individu atau diri sendiri. 

Hambatan bersifat negatif, oleh karena itu banyak kegiatan yang seringkali ada beberapa hal yang menjadi penghambat dalam tercapainya tujuan, baik hambatan dalam pelaksanaan program maupun dalam hak pengembangannya.

Pengertian pemilihan karir adalah pengembangan kepribadian seseorang atau kematangan dalam memilih lapangan pekerjaan. Para ahli psikoanalisis memandang asal mula dari minat seseorang adalah sebagai suatu respon pada suatu kebutuhan ego untuk dihargai dan status yang memuaskan. Mereka memandang bahwa pemilihan karir adalah kebutuhan pokok bawah sadar. 

Menurut Cahyo (2015) “arah pilihan karir seseorang merupakan suatu proses yang berlangsung lama dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor penunjang maupun faktor penghambat bagi seseorang dalam membuat keputusan karir”.

Sedangkan menurut John Holland yang dikutip Cristian (2015) memandang bahwa “pilihan karir dan penyesuaian karir merupakan pengembangan dari kepribadian seseorang. Individu mengekspresikan dirinya, ketertarikan, dan nilai-nilai melalui pilihan karir mereka.”

Berdasarkan pengertian penyelesaian hambatan pemilihan karir di atas, maka dappat disimpulkan bahwa penyelesaian hambatan pemilihan karir adalah suatu usaha mencari jalan keluar untuk mengatasi rintangan atau halangan yang dapat menghambat peserta didik dalam mengembangkan dirinya kedepannya terutama dalam bidang karir.

Referensi:
Cahyo, Cristian. 2015. Teori-teori Karir 
Krisanto C.A.W, Zegger Edytias, dan Adi Kurniawan. 2014. Pemecahan Masalah

Karakteristik Peserta Didik/Siswa di Sekolah Dasar

Karakteristik Peserta Didik (Siswa) di Sekolah Dasar 

Dalam memahami karakterisitik siswa atau peserta didik sekolah dasar tentunya kita harus meihat kembali dengan sifat khas yang tentunya berbeda-beda pada diri setiap individu. Untuk itu, ada beberapa aspek yang perlu diketahui seperti berikut ini: 

1. Aspek Fisik dan Motorik 

Perkembangan fisik pada diri peserta didik usia Sekolah Dasar dapat dicirikan dengan berbagai variasi dalam pola pertumbuhannya. Keberagaman ini dikarenakan beberapa faktor yang meliputi: tercukupnya asupan gizi, kondisi lingkungan siswa, genetika, hormon, jenis kelamin, asal etnis/suku, serta adanya penyakit/gangguan yang diderita. 

Pada tahap ini pertumbuhan fisik bisa berlangsung sehingga peserta didik menjadi lebih tinggi, lebih berat, lebih kuat. Dan seiring dengan waktu, pertumbuhan fisik peserta didik akan beranjak matang, sehingga perkembangan motorik siswa/peserta didik sudah bisa diatur dengan baik. 

Setiap gerakannya sudah seimbang dengan kebutuhan atau minatnya, bisa menggerakan anggota badannya dengan tujuan yang baik, seperti:
  • Menggerakan tangan dalam menulis, membuat gambar. mengambil makanan, serta melempar, dll. 
  • Menggerakan kaki untuk menendang bola dan lari mengejar teman pada saat main kucing-kucingan. 
Pada tahap atau usia sekolah dasar atau pada usia 7 – 12 tahun, karakter peserta didik ditandai dengan adanya gerak atau aktivitas motorik yang lebih lincah. Oleh sebab itu, usia ini merupakan masa yang ideal untuk belajar keterampilan yang berkaitan dengan motorik, baik motorik halus maupun motorik kasar. 

2. Aspek Kognitif 

Pada saat usia sekolah dasar, individu sudah dapat merespon rangsangan intelektual, atau melaksanakan tugas-tugas belajar yang menuntut dalam kemampuan intelektual atau kemampuan kognitif (seperti: menulis, membaca, dan menghitung atau CALISTUNG). 

Karakteristik Peserta Didik/Siswa di Sekolah Dasar

Sebelum pada fasse ini, yaitu masa prasekolah (usia Taman Kanak-kanak), daya pikir individu masih bersifat imajinatif, berangan-angan atau berkhayal, sedangkan pada usia sekolah dasar daya pikir individu atau pesrta didik sudah berkembang ke arah berpikir kongkrit dan rasional. 

Dilihat dari aspek perkembangan kognitif, menurut Piaget fase ini berada pada tahap operasi kongkrit, yang ditandai dengan kemampuan 
  1. Mengklasifikasikan (mengelompokkan) benda-benda berdasarkan ciri yang sama, 
  2. Menyusun atau mengasosiasikan (menghubungkan atau menghitung) angka-angka atau bilangan, dan
  3. Memecahkan masalah (problem solving) yang sederhana. 
Kemampuan intelektual pada masa ini sudah cukup untuk menjadi dasar diberikannya berbagai kecakapan yang dapat mengembangkan pola pikir atau daya nalarnya. Kepada anak sudah bisa diberikan dasar-dasar keilmuan, seperti membaca, menulis, dan berhitung (CALISTUNG). 

Pada usia 11 tahun tahapan perkembangan kognitif memasuki tahap operasional formal ditandai dengan mampu berpikir abstrak, menalar secara logis dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. 


Di samping itu, kepada anak juga sudah dapat diberikan dasar-dasar pengetahuan yang terkait dengan kehidupan manusia, hewan, lingkungan alam, lingkungan sosial budaya, dan agama. Untuk mengembangkan daya nalarnya, daya cipta, atau kreativitas anak, maka kepada anak perlu diberi peluang-peluang untuk bertanya, berpendapat, atau menilai (memberikan kritik) tentang berbagai hal yang terkait dengan pelajaran, atau peristiwa yang terjadi di lingkungannya. 

3. Aspek Sosial 

Perkembangan sosial peserta didik usia SD ditandai dengan adanya perluasan hubungan, di samping dengan para anggota keluarga, juga dengan teman sebaya (peer group), sehingga ruang gerak hubungan sosialnya telah bertambah luas. Pada usia SD, anak mulai memiliki kesanggupan menyesuaikan diri dari sikap berpusat kepada diri sendiri (egosentris) kepada sikap bekerjasama (kooperatif) atau mau memperhatikan kepentingan orang lain (sosiosentris). 

Anak mulai berminat terhadap kegiatan bersama teman sebaya, dan bertambah kuat keinginannya untuk diterima menjadi anggota kelompok (gang), merasa tidak senang apabila ditolak oleh kelompoknya dan dapat menyesuaikan dirinya dengan kelompok teman sebaya maupun lingkungan masyarakat sekitarnya. 

Dalam proses belajar di sekolah, kematangan perkembangan sosial ini dapat dimanfaatkan atau dimaknai dengan memberikan tugas-tugas kelompok, baik yang membutuhkan tenaga fisik (seperti membersihkan kelas dan halaman sekolah), maupun tugas yang membutuhkan pikiran (seperti merencanakan kegiatan berkemah dan membuat laporan study tour). 

Tugas-tugas kelompok ini harus memberikan kesempatan kepada setiap peserta didik untuk menampilkan prestasinya, dan juga diarahkan untuk mencapai tujuan bersama. Dengan melaksanakan tugas kelompok, peserta didik dapat belajar tentang sikap dan kebiasaan dalam bekerja sama, saling menghormati, bertenggang rasa, dan bertanggung jawab.  

4. Aspek Emosi

Pada usia Sekolah Dasar (khususnya di kelas-kelas tinggi, kelas 4, 5, dan 6), anak mulai menyadari bahwa pengungkapan emosi secara kasar tidaklah diterima, atau tidak disenangi oleh orang lain. Anak SD belajar untuk mengendalikan dan mengontrol ekspresi emosinya melalui peniruan dan latihan (pembiasaan). 

Dalam proses peniruan, kemampuan orangtua atau guru dalam mengendalikan emosinya sangatlah berpengaruh. Apabila anak dikembangkan di lingkungan keluarga yang suasana emosionalnya stabil, maka perkembangan emosi anak cenderung stabil atau sehat. Sebaliknya apabila kebiasaan orangtua atau guru dalam mengekspresikan emosinya kurang stabil atau kurang kontrol (seperti: marah-marah, mengeluh), maka perkembangan emosi anak, cenderung kurang stabil atau tidak sehat.  

Emosi merupakan faktor dominan yang mempengaruhi tingkah laku individu, dalam hal ini termasuk pula perilaku belajar. Emosi positif seperti: perasaan senang, bergairah, bersemangat atau rasa ingin tahu yang tinggi akan mempengaruhi individu untuk mengkonsentrasikan dirinya terhadap aktivitas belajar, seperti memperhatikan penjelasan guru, membaca buku, aktif berdiskusi, mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah, dan disiplin dalam belajar. 

Sebaliknya, apabila emosi yang menyertai proses belajar itu emosi negatif, seperti perasaan tidak senang, kecewa, maka proses belajar tersebut akan mengalami hambatan, dalam arti individu tidak dapat memusatkan perhatiannya untuk belajar, sehingga kemungkinan besar dia akan mengalami kegagalan dalam belajarnya. Mengingat hal tersebut, maka guru Sekolah Dasar seyogianya mempunyai kepedulian untuk menciptakan suasana proses belajar-mengajar yang menyenangkan atau kondusif.

5. Aspek Moral 

Penalaran moral, yang merupakan dasar dari perilaku etis. Peranan lingkungan terutama lingkungan keluarga sangat dominan dalam perkembangan aspek moral. Pada mulanya anak melakukan perbuatan bermoral dari meniru (mengamati) kemudian menjadi perbuatan atas prakarsa sendiri karena adanya kontrol atau pengawasan dari luar, namun kemudian berkembang karena kontrol dari dalam dirinya.  

Sampai usia 7 tahun, anak mulai memasukkan nilai-nilai keluarga ke dalam dirinya. Apa yang penting bagi orang tua juga akan menjadi penting baginya. Di sinilah orang tua dapat mengarahkan perilakunya, sehingga sesuai dengan aturan dalam keluarga. Dalam tahap inilah seorang anak mulai memahami bahwa apa yang mereka lakukan akan mempengaruhi orang lain.  

Pada usia 7-10 tahun, campur tangan orang dewasa (orangtua, guru, dan sebagainya) tidak lagi terlalu ‘menakutkan’ buat anak. Anak mengetahui bahwa orang tua adalah sosok yang harus ditaati, tetapi anak juga tahu bahwa jika melanggar aturan harus memperbaikinya. Perasaan bahwa ‘ini benar’ dan ‘itu salah’ sudah mulai tertanam kuat dalam diri anak. Anak usia ini juga mulai memilah mana saja perilaku yang akan mendatangkan ‘keuntungan’ buat mereka. 

6. Aspek Religius 

Kepercayaan anak kepada Tuhan pada usia ini, bukanlah keyakinan hasil pemikiran, akan tetapi merupakan sikap emosi yang berhubungan erat dengan kebutuhan jiwa akan kasih sayang dan perlindungan. 

Oleh karena itu dalam mengenalkan Tuhan kepada anak, sebaiknya ditonjolkan sifat-sifat pengasih dan penyayang. Sampai kira-kira usia 10 tahun, ingatan anak masih bersifat mekanis, sehingga kesadaran beragamanya hanya merupakan hasil sosialisasi orang tua, guru, dan lingkungannya. 

Oleh karena itu pengamalan ibadahnya masih bersifat peniruan, belum dilandasi kesadarannya. Pada usia 10 tahun ke atas, semakin bertambah kesadaran anak akan fungsi agama baginya, yaitu berfungsi moral dan sosial. 

Anak mulai dapat menerima bahwa nilai-nilai agama lebih tinggi dari nilai-nilai pribadi atau nilai-nilai keluarga. Anak mulai mengerti bahwa agama bukan kepercayaan pribadi atau keluarga, tetapi kepercayaan masyarakat. 

Periode usia Sekolah Dasar merupakan masa pembentukan nilai-nilai agama sebagai kelanjutan periode sebelumnya. Kualitas keagamaan anak sangat dipengaruhi oleh proses pembentukan atau pendidikan yang diterimanya. Oleh karena itu, pendidikan agama di Sekolah Dasar harus menjadi perhatian  semua pihak yang terkait, bukan hanya guru agama tetapi juga kepala sekolah dan guru-guru lainnya. 

Apabila pendidik sudah memberikan suri tauladan kepada anak dalam mengamalkan agama maka pada diri anak akan berkembang sikap yang positif terhadap terhadap agama, dan pada gilirannya akan berkembang pula kesadaran beragamanya. 

Peran dan Fungsi Bimbingan dan Konseling dalam Kurikulum 2013

Peran dan Fungsi Bimbingan dan Konseling dalam Implementasi Kurikulum 2013 


Bimbingan dan konseling
merupakan bagian integral dalam pendidikan yang memposisikan kemampuan peserta didik untuk mengeksplorasi, memilih, berusaha meraih, dan mempertahankan karier yang ditumbuh-kembangkan secara komplementer oleh guru bimbingan dan konseling dan oleh guru mata pelajaran dalam setting pendidikan. 


Peminatan peserta didik yang difasilitasi oleh bimbingan dan konseling, tidak berakhir pada penetapan pilihan dan keputusan bidang keahlian yang dipilih peserta didik, melainkan harus diikuti layanan pembelajaran yang mendidik, aksesibilitas perkembangan yang luas, dan penyiapan lingkungan perkembangan belajar yang mendukung. Untuk itu, bimbingan dan konseling berperan secara kolaboratif dalam hal sebagai berikut.

Menguatkan Pembelajaran yang Mendidik Proses belajar yang mendidik dan layanan bimbingan dan konseling yang memandirikan serta suasana yang kondusif lingkungan sekolah untuk pembelajaran diharapkan dapat memfasilitasi perkembangan potensi peserta didik. 


Peran dan Fungsi Bimbingan dan Konseling dalam Kurikulum 2013
By: tautanpena.blogspot.com
Suasana belajar dan proses pembelajaran dimaksud pada hakikatnya adalah proses mengadvokasi dan memfasilitasi perkembangan peserta didik yang dalam implementasinya memerlukan penerapan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling.

Bimbingan dan konseling dalam kurikulum dan pembelajaran untuk mengembangkan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan potensi peserta didik. Untuk mewujudkan lingkungan belajar dimaksud, guru hendaknya:

  1. Memahami kesiapan belajar peserta didik dan penerapan prinsip bimbingan dan konseling dalam pembelajaran, 
  2. Melakukan asesmen potensi peserta didik, 
  3. Melakukan diagnostik kesulitan perkembangan dan belajar peserta didik, 
  4. Mendorong terjadinya internalisasi nilai sebagai proses individuasi peserta didik. 
  5. Perwujudan keempat prinsip tersebut dapat dikembangkan melalui kolaborasi kerja antara guru mata pelajaran dengan guru bimbingan dan konseling. 
b. Memfasilitasi Advokasi dan Aksesibilitas

Peminatan peserta didik dalam Kurikulum 2013 merupakan suatu wilayah garapan profesi bimbingan dan konseling, tercakup dalam program perencanaan individual atau penyaluran dan penempatan. Bimbingan dan konseling berperan melakukan advokasi, aksesibilitas, dan fasilitasi agar terjadi diferensiasi dan diversifikasi layanan pendidikan bagi pengembangan pribadi, sosial, belajar dan karir peserta didik. 


Untuk mencapai perkembangan optimal bidang pribadi, social, belajar dan karir diperlukan kolaborasi yang harmonis dan sinergis serta edukatif antara guru bimbingan dan konseling dengan guru mata pelajaran. Bentuk kolaborasinya adalah dalam:
  1. Memahami potensi peserta didik secara mendalam dan pengembangan kesiapan belajar peserta didik, 
  2. Merancang ragam program pembelajaran dan melayani kekhususan kebutuhan peserta didik, 
  3. Membimbing pencapaian perkembangan pribadi, sosial, belajar dan karir secara optimal. 
c. Menyelenggarakan Fungsi Outreach 

Pengembangan Kurikulum 2013 menekankan bahwa kurikulum dirancang berbasis kompetensi dan dalam pembelajaran adalah sebagai proses pemberdayaan dan pembudayaan serta memperhatikan peminatan peserta didik. 

Untuk mendukung realisasi prinsip tersebut, bimbingan dan konseling tidak cukup menyelenggarakan fungsi-fungsi inreach tetapi juga melaksanakan fungsi outreach yang berorientasi pada penguatan daya dukung lingkungan perkembangan sebagai lingkungan belajar. 

Dalam konteks ini kolaborasi guru bimbingan dan konseling dengan guru mata pelajaran hendaknya terjadi dalam konteks kolaborasi yang lebih luas, antara lain:
  1. Kolaborasi dengan orang tua/keluarga, 
  2. Kolaborasi dengan dunia kerja dan lembaga pendidikan, 
  3. Membangun hubungan kerjasama dengan institusi terkait lainnya untuk membantu perkembangan peserta didik secara optimal.

Not Angka Pianika Halu - Feby Putri

Not Angka Halu - Feby Putri 

Halo Sobat, kali ini Admin akan membagikan Not angka lagu pop yang berjudul halu. Not angka Lagu yang dinyanyikan oleh Feby Putri Nilam Cahyani atau yang sering dikenal Feby Putri ini sekarang ini bisa kamu mainkan pada pianika, piano dan seruling.

Feby Putri
feby putri


Selamat menikmati dan jangan lupa untuk membagikan Not Angka Pianika Halu - Feby Putri ini kepada teman-teman kamu.