Contoh Makalah - Teori Belajar Menurut Aliran Kognitif

Tags

Berikut ini kami sajikan contoh makalah yang berjudul tentang Teori Belajar Menurut Aliran Kognitif. Untuk lebih jelasnya mari kita simak ulasannya berikut ini:

TEORI BELAJAR MENURUT ALIRAN KOGNITIF

Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menempuh Mata Kuliah Belajar Dan Pembelajaran Yang Diampu Oleh Prof.Dr.Karwono,M.Pd.

Teori Belajar Menurut Aliran Kognitif

NAMA
NPM
HENDRI SETIAWAN
13220004
IMAS DEVITA SARI
13220008
SUPRIYANTO
13220014
WAYAN LENI
13220033


PENDIDIKAN SEJARAH
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang
Belajar seharusnya menjadi sebuah kegiatan yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Belajar merupakan salah satu kebutuhan hidup manusia yang paling penting dalam upaya mempertahankan hidup dan mengembangkan diri. 
Melalui belajar seseorang dapat memahami sesuatu konsep yang baru, dan atau mengalami perubahan tingkah laku, sikap, dan ketrampilan. Pada dasarnya terdapat dua pendapat tentang teori belajar yaitu teori belajar aliran behavioristik dan teori belajar kognitif. 
Teori belajar behavioristik menekankan pada pengertian belajar merupakan perubahan tingkah laku, sehingga hasil belajar adalah sesuatu yang dapat diamati dengan indra manusia langsung tertuangkan dalam tingkah laku. Seperti yang dikemukakan oleh Ahmadi dan Supriono (1991: 121) bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.
Sedangkan teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia. Perubahan itu bersifat secara relatif dan berbekas”. 
Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya belajar adalah suatu proses usaha yang melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam diri manusia sebagai akibat dari proses interaksi aktif dengan lingkungannya untuk memperoleh suatu perubahan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, tingkah laku, ketrampilan dan nilai sikap yang bersifat relatif dan berbekas.

1.2  Rumusan masalah
  • Apa pengertian teori belajar menurut pandangan kognitif ? 
  • Siapa sajakah tokoh pemikir pada teori belajar kognitif?
  • Bagaimana aplikasi psikologi kognitif dalam pembelajaran?
1.3  Tujuan penulisan makalah
  • Tujuan khususnya adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah belajar dan pembelajaran.
  • Tujuan umumnya adalah untuk memahami serta mengerti dengan apa yang dimaksud dengan teori belajar kognitif serta aplikasinya untuk proses pembelajaran.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Teori Belajar Menurut Pandangan Kognitif

Psikologi kognitif mulai diperkenalkan pada akhir abad -19 yaitu dengan lahirnya teori belajar gestalt, dan salah satu tokoh psikologi gestald adalah max. Istilah “Cognitive” berasal dari kata cognition artinya adalah pengertian, mengerti. Pengertian yang luasnya cognition (kognisi) adalah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan. 
Dalam pekembangan selanjutnya, kemudian istilah kognitif ini menjadi populer sebagai salah satu wilayah psikologi manusia / satu konsep umum yang mencakup semua bentuk pengenalan yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan masalah pemahaman, memperhatikan, memberikan, menyangka, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, pertimbangan, membayangkan, memperkirakan, berpikir dan keyakinan. 
Termasuk kejiwaan yang berpusat di otak ini juga berhubungan dengan konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian dengan rasa. Teori belajar ini hadir dan muncul disebabkan para Ahli Psikologi belum puas dengan penjelasan yang teori-teori yang terdahulu. Mereka berpendapat bahwa tingkah laku seseorang selalu di dasarkan pada kognisi, yaitu suatu perbuatan mengetahui atau perbuatan pikiran terhadap situasi dimana tingkah laku itu terjadi.
Teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia. Seperti juga diungkapkan oleh Winkel (1996) bahwa “Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif dan berbekas”. Teori belajar kognitif berpandangan bahwa belajar merupakan proses mental aktif untuk memperoleh, mengingat dan menggunakan pengetahuan.  
Hal ini sesuai dengan pendapat Woolfolk 2004 (dalam Pribadi ,2009) bahwa teori belajar kognitif sebagai pendekatan umum yang memandang belajar sebagai proses mental aktif untuk memperoleh, mengingat dan menggunakan informasi dan pengetahuan. Dalam pandangan teori belajar kognitif, siswa adalah individu yang aktif mempelajari ilmu pengetahuan. Dalam menempuh proses pembelajaran, siswa tidak hanya sekadar bersifat pasif dalam menerima pengetahuan. Siswa mencari informasi untuk mengatasi masalah yang dihadapi dan menyusun pengetahuan tersebut untuk memperoleh sebuah pemahaman baru.  
Menurut para ahli jiwa aliran kognitifis, tingkah laku seseorang itu senantiasa didasarkan pada kondisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi. Teori belajar kognitif berpandangan bahwa belajar merupakan proses mental aktif untuk memperoleh, mengingat dan menggunakan pengetahuan. Dalam pandangan teori belajar kognitif, siswa adalah individu yang aktif mempelajari ilmu pengetahuan.

2.2  Tokoh-tokoh pemikir teori belajar kognitif

Berikut ini adalah tokoh-tokoh pemikir pada teori belajar kognitif :


Teori belajar Jean piaget


Menurut Piaget, perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetika, yaitu proses yang didasarkan atas mekanisme biologis, yaitu perkembangan system syaraf. Dengan bertambahnya umur maka susunan syaraf seseorang akan semakin kompleks dan memungkinkan kemampuannya akan semakin meningkat. Jean Piaget meneliti dan menulis subjek perkembangan kognitif ini dari tahun 1927 sampai 1980. Berbeda dengan para ahli-ahli psikologi sebelumnya, Piaget menyatakan bahwa cara berpikir anak bukan hanya kurang matang dibandingkan dengan orang dewasa karena kalah pengetahuan , tetapi juga berbeda secara kualitatif. 

Menurut penelitiannya juga bahwa tahap-tahap perkembangan individu pribadi serta perubahan umur sangat mempengaruhi kemampuan belajar individu. Piaget mengembangkan teori perkembangan kognitif yang cukup dominan selama beberapa dekade. Dalam teorinya Piaget membahas pandangannya tentang bagaimana anak belajar. Menurut Jean Piaget, dasar dari belajar adalah aktivitas anak bila ia berinteraksi dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisiknya. Pertumbuhan anak merupakan suatu proses sosial.

Anak tidak berinteraksi dengan lingkungan fisiknya sebagai suatu individu terikat, tetapi sebagai bagian dari kelompok sosial. Akibatnya lingkungan sosialnya berada diantara anak dengan lingkungan fisiknya. Interaksi anak dengan orang lain memainkan peranan penting dalam mengembangkan pandangannya terhadap alam. 

Melalui pertukaran ide-ide dengan orang lain, seorang anak yang tadinya memiliki pandangan subyektif terhadap sesuatu yang diamatinya akan berubah pandangannya menjadi obyektif. Proses belajar haruslah di sesuaikan dengan perkembagan syaraf seorang anak, dengan bertambahnya umur maka susunan saraf seorang akan semakin kompleks dan memungkinkan kemampuannya semakin meningkat. 


Karena itu proses belajar seseorang akan mengikuti pola dan tahap perkembangan tertentu sesuai dengan umurnya. Perjenjangan ini bersifat hierarki, yaitu melalui tahap-tahap tertentu sesuai dengan umurnya. Seseorang tidak dapat mempelajari sesuatu yang diluar kemampuan kognitifnya.


Dalam perkembangan intelektual ada tiga hal penting yang menjadi perhatian Piaget yaitu:


  • Struktur, Piaget memandang ada hubungan fungsional antara tindakan fisik, tindakan mental dan perkembangan logis anak-anak. Tindakan (action) menuju pada operasi-operasi dan operasi-operasi menuju pada perkembangan struktur-struktur. 
  • Isi, merupakan pola perilaku anak yang khas yang tercermin pada respon yang diberikannya terhadap berbagai masalah atau situasi yang dihadapinya.
  • Fungsi, Adalah cara yang digunakan organisme untuk membuat kemajuan intelektual. Menurut Piaget perkembangan intelektual didasarkan pada dua fungsi yaitu organisasi dan adaptasi. Organisasi memberikan pada organisme kemampuan untuk mengestimasikan atau mengorganisasi proses-proses fisik atau psikologis menjadi sistem-sistem yang teratur dan berhubungan. Adaptasi, terhadap lingkungan dilakukan melalui dua proses yaitu asimilasi dan akomodasi.

Menurut Pieget, proses belajar sebenarnya terdiri dari tiga tahapan, yaitu asimilasi, akomodasi dan equilibrasi :
  • Asimilasi, adalah proses penyatuan informasi baru ke struktur kognitif yang sudah ada dalam benak siswa.
  • Akomodasi, adalah proses penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi baru.
  • Equilibrasi, adalah proses penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi.
Menurut Piaget, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan.

Menurut Piaget aspek perkembangan kognitif meliputi empat tahap, yaitu:

Sensoris-motoris ( 0 – 2 Tahun )

Selama perkembangan dalam periode ini berlangsung sejak anak lahir sampai usia 2 tahun, intelegensi yang dimiliki anak tersebut masih berbentuk primitif dalam arti masih didasarkan pada perilaku terbuka. Meskipun primitif dan terkesan tidak penting, intelegensi sensori-motor sesungguhnya merupakan intelegensi dasar yang amat berarti karena ia menjadi pondasi untuk tipe-tipe intelegensi tertentu yang akan dimiliki anak tersebut kelak.

Pra operational ( 2 – 7 Tahun )

Perkembangan ini bermula pada saat anak berumur 2-7 tahun dan telah  memiliki penguasaan sempurna mengenai objek permanence, artinya anak tersebut sudah memiliki kesadaran akan tetap eksisnya suatu benda yang ada atau biasa ada, walaupun benda tersebut sudah ia tinggalkan atau sudah tak dilihat dan tak didengar lagi.

Jadi, padangan terhadap eksistensi benda tersebut berbeda dari pandangan pada periode sensori-motor, yakni tidak lagi bergantung pada pengamatan belaka.

Concrete operational ( 7 – 11 Tahun )


Dalam periode konkret operasional ini belangsung hingga usia menjelang remaja, kemudian anak mulai memperoleh tamnbahan kemampuan yang disebut sistem of operations (satuan langkah berfikir). Kemampuan ini berfaedah bagi anak untuk mengkoordinasikan pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu dalam sistem pemikirannya sendiri.


Formal operational ( 11 – 15 Tahun )


Dalam perkembngan formal operasional, anak yang sudah menjelang atau sudah menginjak masa remaja, yakni usia 11-15 tahun, akan dapat mengatasi masalah keterbatasan pemikiran. Dalam pperkembangan kognitif akhir ini seorang remaja telah memiliki kemampuan mengkoordinasikan baik secara simultan (serentak) maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitif, yakni:

  • Kapasitas menggunakan hipotesis
  • kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak
Dalam dua macam kemampuan kognitif yang sangat berpengaruh terhadap kualiatas skema kognitif itu tentu telah dimiliki oleh orang-orang dewasa. Oleh karenanya, seorang remaja pelajar yang telah berhasil menempuh proses perkembangan formal operasional secara kognitif dapat dianggap telah mulai dewasa.

Teori belajar ausubel


Menurut Ausubel belajar haruslah bermakna, materi yang dipelajari diasimilasikan secara non arbitrer dan berhubungan dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Ausubel seorang psikologist kognitif, ia mengemukakan bahwa yang perlu diperhatikan seorang guru ialah strategi mengajarnya.

Sebagai contoh pelajaran berhitung bisa menjadi tidak berhasil jika murid hanya di suruh menghafal formula-formula tanpa mengetahui arti formula-formula itu. Sebaliknya bisa lebih bermakna jika murid diajari fungsi dan arti dari formula-formula tersebut. Dalam aplikasinya teori Ausubel ini menuntut siswa belajar secara deduktif (dari umum ke khusus). Secara umum, teori Ausubel ini dapat diterapkan dalam proses pembelajaran melalui tahap-tahap sebagai berikut :
  • Menentukan tujuan-tujuan intruksional;
  • Mengukur kesiapan peserta didik seperti minat, kemampuan, dan struktur kognitifnya melalui tes awal, interview, pertanyaan, dan lain-lain;
  • Memilih materi pelajaran dan mengaturnya dalam bentuk penyajian konsep-konsep kunci;
  • Mengidentifikasikan prinsip-prinsip yang harus dikuasai dari materi itu;
  • Menyajikan suatu pandangan secara menyeluruh tentang apa yang harus dipelajari;
  • Membuat rangkuman terhadap materi yang baru saja disampaikan dengan uraian yang singkat;
  • Membelajarkan peserta didik memahami konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang ada dengan memberikan fokus pada hubungan yang terjalin antara konsep yang ada;
  • Mengevaluasi proses dan hasil bejar
Menurut Ausubel, siswa akan belajar dengan baik jika apa yang disebut “pengatur kemajuan” (advance organizer) didefenisikan dan dipresentasikan dengan baik dan tepat kepada siswa. Pengatur kemajuan belajar adalah konsep atau informasi umum mewadahi (mencakup) semua isi pelajaran yang akan diajarkan kepada siswa. Ada tiga manfaat dari “advance organizer” ini, yaitu :
  • Dapat menyediakan suatu kerangka konseptual untuk materi pelajaran yang akan dipelajari;
  • Dapat berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan antara apa yang sedang dipejari siswa saat ini dan dengan apa yang akan dipelajari;
  • Dapat membantu siswa untuk memahami bahan secara lebih mudah.
Teori belajar bruner 

Bruner menusulkan teorinya yang disebut free discovery learning. menurut teori ini, proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika dosen member kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu aturan (termasuk konsep, teori, defenisi, dan sebagainya), melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupan.  


Dengan kata lain siswa dibimbing secara induktif untuk memahami suatu kebenaran umum. Untuk memahami konsep kejujuran misalnya siswa tidak semata-mata menghafal defenisi kata kejujuran tersebut melainkan dengan mempelajari contoh-contohnya yang konkret tentang kejujuran dan dari contoh itulah siswa dibimbing untuk mendefenisikan kata kejujuran. Menurut Brunner, pembelajaran hendaknya dapat menciptakan situasi agar mahasiswa dapat belajar dari diri sendiri melalui pengalaman dan eksperimen untuk menemukan pengetahuan dan kemampuan baru yang khas baginya.

Dari sudut pandang psikologi kognitif, bahwa cara yang dipandang efektif untuk meningkatkan kualitas output pendidikan adalah pengembangan program-program pembelajaran yang dapat mengoptimalkan keterlibatan mental intelektual pembelajar pada setiap jenjang belajar. Sebagaimana direkomendasikan Merril, yaitu jenjang yang bergerak dari tahapan mengingat, dilanjutkan ke menerapkan, sampai pada tahap penemuan konsep, prosedur atau prinsip baru di bidang disiplin keilmuan atau keahlian yang sedang dipelajari. 

Teori belajar Bruner ini dalam aplikasinya sangat membebaskan siswa untuk belajar sendiri. Karena itulah teori Bruner ini dianggap sanagt cenerung bersifat discovery (belajar dengan cara menemukan). Disamping itu karena teori Bruner ini banyak menuntut pengulangan-pengulangan maka desain yang berulang-ulang ini lazim disebut sebagai kurikulum spiral Bruner. 


Kurikulum piral menuntut guru untuk member materi pembelajaran setahap-demi setahap dari yang sederhana ke yang kompleks, dimana suatu materi yang sebelumnyasudah diberikan, suatu saat muncul kembali, secara terintegrasi, di dalam suatu materi baru yang lebih kempleks. Dalam teori belajar, Bruner juga berpendapat bahwa kegiatan belajar akan berjalan baik dan kreatif jika siswa dapat menemukan sendiri suatu aturan atau kesimpulan tertentu. Dalam hal ini Bruner membedakan menjadi tiga tahap. Ketiga tahap itu adalah:

  • Tahap informasi, yaitu tahap awal untuk memperoleh pengetahuan atau pengalaman baru; 
  • Tahap transformasi, yaitu tahap memahami, mencerna dan menganalisis pengetahuan baru serta mentransformasikan dalam bentuk baru yang mungkin bermanfaat untuk hal-hal yang lain. 
  • Evaluasi, yaitu untuk mengetahui apakah hasil tranformasi pada tahap kedua tadi benar atau tidak
Dengan demikian Bruner menegaskan bahwa mata pelajaran apapun dapat diajarkan secara efektif dengan kejujuran intelektual kepada anak, bahkan dalam tahap perkembangan manapun. Bruner beranggapan bahwa anak kecilpun akan dapat mengatasi permasalahannya, asalkan dalam kurikulum berisi tema-tema hidup, yang dikonseptualisasikan untuk menjawab tiga pertanyaan. 

Berdasarkan uraian di atas, teori belajar Bruner dapat disimpulkan bahwa, dalam proses belajar terdapat tiga tahap, yaitu informasi, trasformasi, dan evaluasi. Lama tidaknya masing-masing tahap dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain banyak informasi, motivasi, dan minat siswa.

Bruner juga memandang belajar sebagai “instrumental conceptualisme” yang mengandung makna adanya alam semesta sebagai realita, hanya dalam pikiran manusia. Oleh karena itu, pikiran manusia dapat membangun gambaran mental yang sesuai dengan pikiran umum pada konsep yang bersifat khusus. Semakin bertambah dewasa kemampuan kognitif seseorang, maka semakin bebas seseorang memberikan respon terhadap stimulus yang dihadapi. Perkembangan itu banyak tergantung kepada peristiwa internalisasi seseorang ke dalam sistem penyimpanan yang sesuai dengan aspek-aspek lingkungan sebagai masukan. Teori belajar psikologi kognitif memfokuskan perhatiannya kepada bagaimana dapat mengembangkan fungsi kognitif individu agar mereka dapat belajar dengan maksimal.

Faktor kognitif bagi teori belajar kognitif merupakan faktor pertama dan utama yang perlu dikembangkan oleh para guru dalam membelajarkan peserta didik, karena kemampuan belajar peserta didik sangat dipengaruhi oleh sejauhmana fungsi kognitif peserta didik dapat berkembang secara maksimal dan optimal melalui sentuhan proses pendidikan.

Teori belajar gestalt

Teori Gestalt dikembangkan oleh Koffka, Kohler, dan Wertheimer. Menurut teori Gestalt belajar adalah proses pengembangan insight. Insight adalah pemahaman terhadap hubungan antar bagian dalam suatu situasi permasalahan. Berbeda dengan teori Behavioristik yang menganggap belajar itu bersifat mekanistis, sehingga mengabaikan atau mengingkari peranan insight. Teori Gestalt justru menganggap bahwa insight adalah inti dari pembentukan tingkah laku. 

Peletak dasar teori belajar Gestalt ialah Max Wertheimer sebagai usaha untuk memperbaiki proses belajar denga rote learning dengan pengertian bukan menghapal. Dalam belajar, menurut teori Gestalt, yang terpenting adalah penyesuaian pertama, yaitu mendapatkan respons atau tanggapan yang tepat. Belajar yang terpenting bukan mengulangi hal-hal yang harus dipelajari, tetapi mengerti atau memperoleh insight. 

Belajar dengan pengertiian lebih dipentingkan daripada hanya memasukkan sejumlah kesan. Belajar dengan insight adalah sebagai berikut :
  • Insight tergantung dari kemampuan dasar;
  • Insight tergantung dari pengalaman masa lampau yang relevan;
  • Insight hanya timbul apabila situasi belajar diatur sedemikian rupa, sehingga segala aspek yang perlu dapat diamati;
  • Insight adalah hal yang harus dicari, tidak dapat jatuh dari langit;
  • Belajar dengan insight dapat diulangi;
  • Insight sekali didapat dapat digunakan untuk menghadapi situasi-situasi baru.
Prinsip-prinsip Teori belajar Gestalt


Seperti diketahui Teori Belajar gestalt lebih menekankan kepada persepsi. Karena itu prinsip-prinsip atau hukum-hukum yanga ada pada Gestalt pada umumnya menyangkut persepsi. Adapun teori-teori gestalt antara lain :
  • Belajar berdasarkan keseluruhan
  • Belajar adalah suatu proses perkembangan
  • Anak didik sebagai organism keseluruhan
  • Terjadi transfer
  • Belajar adalah reorganisasi pengalaman
  • Belajar harus dengan insight
  • Belejar lebih berhasil bila berhubungan dengan minat, keinginan, dan tujuan.
  • Belajar berlangsung secara terus-menerus.


2.3 Aplikasi Psikologi Kognitif Dalam Pembelajaran

Berikut ini adalah hal-hal yang perlu diperhatikanguru agar dapat membantu melatih peserta didik mengaktifkan kognisi dengan memahami, mengingat, dan menerapkan informasi dalam praktik, seperti:
  1. Memusatkan perhatian anak kepada cara berfikir atau proses mental anak, tidak sekedar kepada hasilnya. Guru harus memahami proses yang digunakan anak sehingga sampai pada hasil tersebut.
  2. Guru perlu memberikan stimulus dengan materi pembelajaran untuk mengaktifkan pengetahuan sebelumnya dengan cara : Mengaktifkan skema dengan organisator awa dan Membuat analogi, sama dengan organisator awal, tetapi jika diorganisator awalmenekankan pada cara mengarahkan peserta didik dengan pertanyaan pengait.
  3. Mengutamakan peran peserta didik dalam berinisiatif aktif sendiri dan keterlibatan aktif dalam kegiatan belajar, dalam kelas. Piaget menekankan bahwa bahwa pengajaran pengetahuan jadi ( ready made knowledge), anak di dorong menentukan sendiri pengetahuan itu melalui interaksi dengan lingkungan.
  4. Mengutamakan peran peserta didik untuk saling berinteraksi, pertukaran,gagasan-gagasan tidak dapat dihindari untuk perkembangan penalran, walaupun penalaran tidak dapat mereka sajikan secara langsung perkembangannya dapat disimulassi.
  5. Guru memotivasi peserta didik agar merasa bahwa bwlajar merupakan suatu kebutuhan, dan bukan sebaliknya sebagai beban.
  6. Pembelajaran hendaknya dimulai dari hal-hal yang kongkretke hal-hal yang abstrak, dari hal yang sederhana ke hal yang kompleks untuk membantu peserta didik memahami informasi lebih mudah.
  7. Pembeajran hendaknya dirancang sesuai dengan pengalaman belajar peserta didik dengan memperhatikan tahap-tahap perkembangannya (untuk kesiapan belajarnya).
  8. Guru harus berperan sebagai fasilitator dan pembimbing yang baik agar peserta didik dapat mengembangkan kemampuannyal lebih tinggi dari tahap kemampuannya.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari makalah yang telah kami bahas kami dpat menyimpulkan bahwa Elemen terpenting dalam proses belajar adalah pengetahuan yang dimiliki oleh tiap individu. Perilaku manusia tidak ditentukan oleh stimulus yang berada diluar dirinya, melainkan oleh faktor yang ada pada dirinya sendiri. Belajar sebagai proses pemfungsian unsur-unsur kognisi terutama pikiran, untuk dapat mengenal dan memahami stimulus yang datang dari luar. 

Dengan kata lain, aktivitas belajar manusia ditentukan pada proses internal dalam berpikir yakni pengolahan informasi. Belajar pada asasnya adalah peristiwa mental, bukan peristiwa behavioral yang bersifat jasmaniah meskipun hal-hal yang bersifat behavioral tampak lebih nyata dalam hampir setiap peristiwa belajar siswa. 

Teori belajar kognitif lebih menekankan arti penting proses internal, mental manusia. Tingkah laku manusia yang tampak, tak dapat diukur dan diterangkan tanpa melibatkan proses mental, seperti : motivasi, kesengajaan, keyakinan dan sebagainya. 

Kemudian tokoh teori belajar kognitif antara lain, piaget,ausubel,bruner,dan gestalt. Setalah adanya konsep-konsep belajar kognitif pasti akan diterapkan dalam proses pembelajaran yang harus diterapkan oleh seorang guru seperti guru harus mampu memberikan kesempatan kepada peserta didik agar mereka dapat mengembangkan pengetahuan yang sebenarnya diluar dari kemampuannya.

DAFTAR PUSTAKA

Abu Ahmad & Widodo Aupriyono, Psikologi Belajar, Jakarta : Rineka Cipta, 1991.
Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni. 2007. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Ar – Ruzz Media Dahar, Ratna wilis. 2002. Teori-Teori Belajar & Pembelajaran. Jakarta : Erlangga
Karwono dan Heni Mularsih. Edisi Revisi. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
http://meetabied.wordpress.com/2010/03/20/teori-perkembangan-kognitif-piaget// Woolfolk 2004 (dalam Pribadi ,2009).



Demikianlah Contoh Makalah yang berjudul Teori Belajar Menurut Aliran Kognitif. Semoga dapat memberikan tambahan ilmu pengetahuan kepada kita semua.

Artikel Terkait

Terimakasih Sudah Meluangkan Waktu Berkunjung Di Blog Ini 😁


EmoticonEmoticon